Minggu, 28 Februari 2021

Mulia dan Hina

Mulia dan Hina
Mulia dan hina adalah dua kata yang berlawanan. salah satu dari kedua kata ini dengan mudah melekat pada seseorang yang berperilaku tertentu. Jika sikap seseorang dapat menyenangkan orang lain ia dikatakan orang baik pada gilirannya ia dimuliakan, dihormati dan dipuji-puji. Sebaliknya terhadap orang bersikap menyimpang dan sumbang di segi adat atau suka membuat orang tertipu dan teraniaya ia dituding sebagai penjahat atau orang munafiq akhirnya pada waktu tertentu ia dihinakan.Beginilah yang selalu terjadi di dalam kehidupan ini. Walaupun semuanya itu bisa dikatakan benar, namun itu hanya penilain yang dilakukan dari sudut pandang yang tampak secara kasat mata, atau yang mudah dirasakan dan ditangkap oleh panca indera. Artinya jika ada orang yang terlihat bersikap jujur dengan penampilan dan pakaian yang meyakinkan orang yang melihatnya, niscaya ialah yang dihormati dan dimuliakan, pada hal tidak diketahui apa sebenarnya di balik penampilan yang menawan tersebut, bisa saja semuanya palsu. Demikian pula halnya ada orang yang tampak dalam keseharian sebagai orang tersisih dari masyarakat, tidak disapa ketika di jalan, bahkan sering diejek dan dicela, pada hal tidak menutup kemungkinan ada suatu yang sangat berharga tersimpan padanya yang pada suatu saat diperlukan oleh semua orang, orang akan mencarinya dan menghargai dan memuliakannya. Jadi fenomena yang terjadi di tangah masyarakat seperti di sebut di atas belum cukup menjadi ukuran untuk menilai seseorang itu mulia atau hina.Lalu apa dan bagaimana yang disebut mulia atau hina yang sebenarnya?  jawabannya sangat sulit dicari jika hanya berdasarkan pada fikiran dan sudut pandang akal manusia dengan segala keterbatasannya. Andai kata masih mau memaksakan diri untuk menjawab maka akan terjadi jawaban acak-acakan, akan terjadi pandangan mulia terhadap yang hina atau menghinakan manusia yang seharusnya mulia. Oleh sebab itu perlu dicari nara sumber lain yang maha benar, dialah Tuhan. Mulia dan hinanya  seseorang di sisi Tuhan tidak lengkap bila hanya dilihat dengan kasat mata, dan tidak dapat hanya menurut pandangan manusia. Dalam kitab suci dikatakan kamu yang paling mulia adalah kamu yang paling taqwa. Taqwa dalam arti berhati-hati untuk tidak bersalah. Jadi tingkat ketaqwaan itulah yang menjadi ukuran.kemuliaan.semakin berhati-hati berbicara, mendengar berhati-hati melangkah, berhati-hati memakan-meminum, berhati-hati mengambil, berhati-hati dekat deng,an lawan jenis dalam pergaulan sehari, berhati-hati menggunakan mata ketika melihat dan berhati-hati membuat tekad dan rencana agar tidak menyimpang dari kebenaran semakin mulia seseorang. Andai kata telah bisa dijalankan semua keberhati-hatian tersebut dalam setiap tingkah laku, bukan saja dalam urusan adat, tetapi termasuk dalam beribadah, maka dia akan mendapat tingkat kemuliaan yang paling tinggi. Allahu a'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar